MALU BERAT. Kapten Serbia, Dejan Stankovic tak kuasa menahan tangis menyaksikan ulah suporternya yang membuat kekacauan saat bertemu Italia, Rabu, 13 Oktober dini hari Wita. (FOTO ALESSANDRO GAROFALO/REUTERS)
GENOA -- Hooliganisme kembali menodai sepak bola Eropa. Ratusan pendukung Serbia mengamuk di dalam Stadion Luigi Ferraris, Genoa, ketika Italia menjamu Serbia dalam matchday keempat kualifikasi Euro 2012, Rabu, 13 Oktober dini hari Wita. Insiden itu memaksa wasit Craig Thimpson asal Skotlandia untuk membatalkan laga, hanya tujuh menit setelah kickoff.
Suasana di tribun memang sangat mencekam. Fans Beli Orlovi, sebutan Serbia, melemparkan obor dan kembang api yang menyala ke lapangan. Mereka juga membakar bendera serta panji-panji mereka sendiri. Ratusan orang yang mengamuk itu berupaya merusak pagar pembatas yang memisahkan mereka dengan fans Italia.
Puncaknya, salah satu kembang api menimpa kiper tuan rumah, Emiliano Viviano. Kiper Serbia, Zeljko Brkic juga hampir kena lemparan obor menyala. Seketika, wasit ambil keputusan cepat untuk menghentikan laga. Sejam kemudian, karena situasi di stadion masih berbahaya, Thompson secara resmi membatalkan match tersebut.
"Kami meminta maaf kepada fans dan pers. Pertandingan ini dihentikan oleh wasit (Thompson, red). Dia khawatir terhadap keselamatan pemain," jelas Antonello Valentini, direktur umum federasi sepak bola Italia (FIGC), kepada Rai. "Dia menghentikannya setelah dua kembang api mengenai pemain. Menurut kami, itu memang sangat berbahaya," lanjutnya.
Tanda-tanda kerusuhan sudah terjadi sejak sebelum laga. Entah apa pemicunya, pada siang hari suporter tim tamu sudah bentrok dengan polisi Genoa. Polisi berhasil mencegah mereka membuat keributan dengan fans Italia, dan menggiring mereka ke stadion. Namun, upaya itu sempat membuat kickoff tertunda selama 45 menit.
Kedua tim jelas kecewa berat dengan insiden memalukan ini. "Kami tidak bermain bola. Saya tidak pernah melihat hal seburuk ini," ucap Cesare Prandelli, pelatih Italia, kepada Associated Press. "Saya bisa bicara apa? Ini hal yang sangat pahit dan mengecewakan. Terutama buat anak-anak muda Italia yang antusias datang ke stadion dan berharap menonton pertandingan bagus," lanjutnya.
Prandelli juga membela pasukan keamanan yang dianggap tidak becus mengantisipasi insiden seberat itu. Apalagi, dilaporkan 14 orang terluka akibat kerusuhan di luar stadion. "Kita tidak bisa mengantisipasi hal semacam ini. Meskipun, berdasarkan cerita pemain Serbia, kerusuhan ini sudah diorganisasi dari Belgrade sendiri," papar Prandelli.
Indikasi itu dibenarkan oleh presiden federasi sepak bola Serbia (AFS) Tomislav Karadzic. Menurut dia, seluruh perusuh yang mengacau di Genoa hanyalah eksekutor. Sedangkan skenarionya dirancang di Serbia. Namun, alasannya belum diketahui dengan pasti. Karadzic juga sudah menyampaikan permintaan maaf kepada Italia dan FIGC.
"Ini skandal yang memalukan. Tim sepak bola kami sudah mengalami kesulitan selama kualifikasi. Saat berlatih, juga saat bertanding. Sekarang ditambah insiden ini, kami benar-benar terjepit," keluh Karadzic dalam wawancara dengan televisi B92. "Negara harus segera ambil tindakan," lanjutnya.
Italia sebenarnya diuntungkan oleh insiden ini. Berdasarkan aturan UEFA, mereka bisa dihadiahi kemenangan dengan skor 3-0. Juru bicara UEFA Rob Faulkner menyatakan, jika laga dibatalkan untuk alasan keamanan, negara yang fansnya mengacau dinyatakan kalah 0-3.
Karena itu, mereka menunggu laporan dari wasit untuk kelengkapan penyelidikan. Pada 2007, komisi disiplin UEFA memberikan kemenangan 3-0 kepada Swedia lantaran fans Denmark mengacau kualifikasi Euro 2008.
Jika itu yang terjadi, posisi Gli Azzurri, sebutan Italia, akan makin kokoh di puncak klasemen Grup C dengan 10 poin. Sebaliknya, peluang Serbia untuk lolos ke babak utama semakin tipis, karena hingga kini baru mengumpulkan empat angka. Dejan Stankovic dkk juga masih terjebak di peringkat kelima.
Namun, FIGC tidak serta merta menunggu durian runtuh. Mereka menyerahkan penanganan kasus ini kepada UEFA. "Kami tidak menuntut apa pun. Ini adalah momen yang sensitif. Bola panas ada di tangan UEFA dan delegasinya untuk mengumpulkan informasi. Segala keputusan kami serahkan kepada mereka selaku otoritas sepak bola Eropa," papar Roberto Donadoni, wakil presiden FIGC, kepada Soccernet. (jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar